Pribadi Sang Empu Blog

MAHASISWA ARSITEKTUR UNIVERSITAS TADULAKO ANGK.2004...

Sabtu, 19 Januari 2008

Mahasiswa Univ. Tadulako diusir saat Upacara Wisuda

Sabtu,29 Desember 2007 menjadi hari yang tak terlupakan bagi 3 orang wisudawan Univ. Tadulako, yakni Mohammad Afandi dari Fak. FISIP, Ruslan dari Fak. Hukum dan Anwar dari Fak. Pertanian. Pada hari yang sangat membanggakan bagi seluruh mahasiswa justru menjadi hari terburuk bagi mereka. Alasannya, pada hari tersebut mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Pembantu Rektor III (PR III) Univ. Tadulako Supriadi SH,MH. PR III UNTAD tidak mengijinkan ikuti acara dan mengusir mereka dari ruang wisuda.


Ketika dikonfirmasi kapada PR III alasan ia mengusir ketiga mahasiswa tersebut adalah untuk mengambulkan permintaan ketiga mahasiswa tersebut. Mereka menolak ijazahnya ditandatangani oleh Rekor UNTAD Sahabuddin Mustafa yang saat itu menjadi terdakwa kasus korupsi dana SDPOPT. Ketiga mahasiswa tersebut diberitakan sering melakukan aksi unjuk rasa terhadap Rektor UNTAD.


Akhirnya pihak keluarga ketiga mahasiswa melaporkan PR III UNTAD ke pihak kepolisian dan kasusnya sedang dalam pemeriksaan debgan menghadirkan saksi-saksi yang terkait dengan pengusiran tersebut. Tindakan PR III UNTAD merupakan tindakan yang menghancurkan masa depan mahasiswa. "Seandainya ada pemberitahuan mengenai anaknya yang akan diusir, tidak mungkin saya akan hadir di acara tersebut", tutur kecewa ayah Mohammad Afandi.

Jumat, 18 Januari 2008

Demokrasi di Hima Artli'e Univ. Tadulako Palu

Hari Senin tepatnya tanggal 14 Januari 2008, masyarakat Arsitektur Univ. Tadulako Palu menyelenggarakan pesta demokrasi Pemilu Raya untuk mencari Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur Univ. Tadulako periode 2008. Pesta tersebut yang dihadiri oleh Ketua Jurusan Arsitektur Bpak. Zubair Butudoka ST, MT., Ketua Program Studi S1 Arsitektur yang diwakili oleh sekertarisnya Bpak. Moh. Bakrie ST, MT., berlangsung dengan suasana yang kondusif. Sebelumnya memang sempat terdengar akan adanya kelompok - kelompok yang tidak setuju dengan Pemilu Raya tersebut. Hal ini ditandai dengan banyaknya senior - senior Arsitektur Angk. Lama. Tapi, Alhamdullillah kegiatan tersebut berjalan dengan lancar. Banyaknya senior Angk. Lama hanya ingin ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi tersebut. Mengingat mereka juga merupakan masyarakat Arsitektur Univ. Tadulako yang masih memiliki hak pilih.
Dalam pemilihan sekarang terdapat 2 calon ketua. Andi Ugar yang didukung penuh oleh Angk.2003 & 2004 dan kompetitornya Moh. Faisal yang mendapat dukungan dari Angk.2005 & 2006. Seperti yang telah diramalkan, akhirnya Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur Univ. Tadulako dijabat oleh Moh. Faisal dengan selisih 14 suara. Hal ini telah diramalkan mengingat jumlah pendukung Moh. Faisal didukung penuh oleh Angk. 2005 & 2006 yang memiliki jumlah mahasiswa angkatan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mahasiswa angkatan 2003 &2004. Sementara angkatan 2007 akhirnya terbelah menjadi 2 suara.
Apapun hasilnya, semangat demokrasi telah ditunjukan oleh masyarkat Arsitektur Univ. Tadulako Palu dengan menerima segala keputusan yang telah ditetapkan berdasarkan hasil Pemilu Raya.
Selamat atas terpilihnya Moh. Faisal sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur Tadulako Palu periode 2008.

Kontoversi Penyelesaian Kasus Hukum Pak Harto

Salam Mahasiswa..!!!
Saat ini Sang Penguasa Orde Baru sedang terbaring sakit di RSPP. Pemerintah sejenak tersadar bahwa ada satu masalah yang belum usai tentang kasus Pak Harto. Di saat seseorang tengah "meregang" nyawa, pemerintah justru berininsiatif menyelesaikan kasus dengan tindakan yang dapat dikatakan sangat - sangat terlambat. Tindakan yang bahkan sangat tidak etis. Menyelesaikan kasus dengan tawaran sejumlah uang di saat tengah malam. Wow...Negeri ini kelihatannya telah kehabisan orang - orang berakal sehat. Setelah timbul kontroversi akibat ditolak "mentah - mentah" oleh keluarga Cendana, pemerintah saling lempar tanggung jawab siapa yang mengeluarkan ininsiatif tawaran penyelesaian kasus tersebut.
Semoga Mahasiswa seluruh Negeri dapat menentukan sikap terhadap Sang Penguasa Orde Baru yang kini terbaring antara "Hidup dan Mati"...
Hidup Mahasiswa..!!!

Antara Pemanasan Global dan Green Building

Pemanasan global menjadi salah satu isu penting yang disuarakan di sejumlah negara. Gedung-gedung bertingkat menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Berdasarkan riset sebuah lembaga di Amerika Serikat, 68% total emisi CO2 di bumi dihasilkan bangunan gedung bertingkat. Apa yang dapat dilakukan dunia properti menghadapi pemanasan global?
Semua pihak yang terlibat dalam bisnis properti dituntut untuk memasukkan agenda upaya pengurangan laju pemanasan global sebagai prioritas kebijakan. Sebab, isu pemanasan global ini memunculkan potensi hilangnya pemasukan bagi pengembang, arsitek, konsultan mekanikal-elektrikal, manajemen properti, dan bidang profesional lainnya jika mereka tidak peduli dengan konsep bangunan yang berwawasan lingkungan (green building).
Konsep green building sebenarnya telah mengemuka sejak dua dekade belakangan. Konsep tersebut digulirkan karena banyak bangunan atau gedung bertingkat yang lebih memprioritaskan aspek estetika, tanpa memerhatikan dampak yang dihasilkan pada lingkungan. Dengan kata lain, green building merupakan salah satu solusi bagi insan dunia properti untuk mengambil peran dalam mengurangi laju pemanasan global.
Di Indonesia sangat sedikit gedung atau bangunan berlantai banyak yang memiliki ciri bangunan iklim tropis, apalagi didesain dengan arsitektur khas Indonesia. Sebaliknya, tidak mudah juga menerapkan arsitektur tropis pada gedung-gedung bertingkat tinggi di Indonesia. Hal itu karena kaca jendela di ruang gedung lantai atas harus tertutup rapat untuk mencegah masuknya tiupan angin yang keras. Akibatnya, udara di bagian dalam ruangan akan menjadi lebih pengab. Solusi yang dilakukan oleh kebanyakan pengembang adalah memasang pendingin ruangan (air conditioning/AC). Padahal, penggunaan pendingin ruangan yang memakai bahan pendingin (refrigen) dari CFC (khloro fluoro carbon) dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Akibatnya, radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi tak bisa menembus atmosfir tak terperangkap di permukaan bumi sehingga meningkatnya suhu permukaan bumi atau terjadilah pemanasan global.